Awan menyatu seakan merangkak perlahan. Tembok-tembok besar begitu kokoh untuk terjaga menyangga bangunan. Sebuah harapan pagi menyertai simpul senyum di pojok wajah yang terbangun setelah lamanya terlelap malam hari. Perlahan tapi pasti, satu per satu anak berseragam merah putih berdatangan. terlihat makna dalam setiap wajah yang datang. Tas di punggung terasa penuh, sepenuh harapan dan do’a kebaikan dari guru dan orang tua yang menanti.
Bunyi bel menjadi penanda mulainya pembelajaran, semua yang diluar harus masuk dalam ruang yang telah ditentukan. Diajarkan segala macam pengetahuan dari berbagai ajaran-ajaran terdahulu hingga yang dianggap ftgikgfiielah mengalami modernisasi.
Meski tidak semua sarana pembelajaran terlihat begitu memadai dan mencukupi, bahkan ada yang bisa dikatakan jauh dari kata sempurna. Bukan itu, satu-satunya penghalang untuk tetap bersatu dalam kemajuan dan kebahagiaan belajar di sekolah. Segala yang disebut ketertnggalan bahkan tak akan muncul jika ada sosok yang dipanggil guru. Yah, guru yang mengilhami dan tidak pernah lelah tersenyum dalam segala keadaan. Yang bersedia memunculkan tawa renyah di sela-sela kegiatan belajar sesuai porsi pribadi anak dengan berusaha memaksimalkan informasi mata pelajaran yang ingin dicapai.
Sering juga anggapan orang tua kedua disandarkan pada sebuah jabatan profesi guru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Juga sekolah yang ditanamkan sebagai rumah kedua bagi seorang anak yang masih harus bersekolah dalam usianya.
Tepat setelah bom tentara sekutu meluluh-lantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki, kalimat pertama yang diucapkan oleh Kaisar Hirohito kepada stafnya adalah. “berapa banyak guru yang masih kita punyai?”. Kiprah guru merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan, karena walau bagaimanapun, gurulah yang mengawali perkembangan pemikiran suatu bangsa.
Kita telah memasuki abad 21 yang dikenal dengan abad pengetahuan. Suatu era dengan spesifikasi tertentu yang sangat besar pengaruhnya terhadap dunia pendidikan dan lapangan kerja. Dampaknya adalah perubahan cara pandang manusia terhadap manusia, cara pandang terhadap pendidikan, perubahan peran orang tua/guru/dosen, serta perubahan pola hubungan antar mereka.
Bicara tentang hidup manusia, akan ada istilah profesi didalamnya. Menyangkut soal profesi secara turun-temurun di masanya yang mengajarkan manusia sebagai manusia seutuhnya. Salah satu yang kita tahu adalah profesionalisme seorang guru.
Sebagian profesi memang selalu mengundang banyak opini yang berkembang di masyarakat, seperti yang baru-baru ini sedang ramai mengundang perbincangan masyarakat luas, khususnya di Indonesia mengenai susah dan senang maupun tantangan hingga tanggung jawab yang diemban saat mengambil langkah profesi guru.
Sehingga sering memunculkan pendapat hingga sorotan yang tajam di masyarakat mengenai profesi guru, baik pada tingkat nasional maupun lokal. Di antara masalah yang muncul adalah berkaitan dengan mutu dan kualitas yang akan didapatkan peserta didik dan para guru itu sendiri dalam proses kegiatan pembelajaran yang sedang dilaksanakan.
Terlepas dari kontroversi itu, kesadaran manusia akan esensi dan eksistensi kehadiran guru dalam mengemban tugas bagi proses kemanusiaan dan pemanusiaan yang bernilai tinggi secara pedagogis, kepribadian, profesional, dan sosial barangkali sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia itu sendiri. Kini makin bangkit kesadaran publik bahwa tidak ada guru, tidak ada pendidikan formal. Telah muncul pula keyakinan kuat bahwa tidak ada pendidikan yang bermutu, tanpa kehadiran guru yang profesional dengan jumlah yang mencukupi. Sejalan dengan itu, muncul juga keyakinan kuat, jangan bermimpi menghadirkan guru yang profesional, kecuali persyaratan pendidikan, kesejahteraan, perlindungan, dan pemartabatan mereka terjamin kalau kita coba pikir secara logika dan melihat secara umum.
0 komentar:
Posting Komentar